Senin, 15 Desember 2014

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf
 10 Orang meninggal karena kelaparan di Suriah
– Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf
 – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).  Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.  Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.  Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.  Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.  Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.  Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir
– Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf
– Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf
– Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf
– Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf
 

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah

Selasa, 23 Safar 1436 H / 16 Desember 2014 06:00
10 orang meninggal karena kelaparan di Suriah
Pengungsi Suriah
DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sepuluh warga Suriah, termasuk delapan anak-anak meninggal karena kelaparan akibat blokade rezim Assad di sebuah desa dekat ibukota Suriah Damaskus, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Senin (15/12/2014).
Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa kematian tersebut terjadi pada bulan Desember di desa Arbin Ghouta, yang berjarak sekitar lima mil (delapan kilometer) dari Damaskus.
Diduga blokade yang dikenakan oleh pasukan Assad mencegah masuknya pasokan medis dan bantuan kemanusiaan ke daerah tersebut. Situasi itu semakin hari menjadi semakin buruk, terutama dengan banyaknya penyakit baru yang mulai muncul di desa tersebut, kata komisi itu.
Sekitar 216 orang, termasuk 150 anak-anak meninggal karena kelaparan di bawah pengepungan di wilayah Ghouta dalam dua tahun terakhir, tambahnya.
Komisi Revolusi Suriah menyerukan bantuan kemanusiaan yang mendesak bagi para korban di daerah tersebut.
Lebih dari 190.000 orang telah tewas di Suriah sejak konflik dimulai, menurut hitungan PBB yang diterbitkan pada Agustus lalu.
Amnesty International memperkirakan bahwa lebih dari 10 juta orang telah dipaksa keluar dari rumah mereka; dan setidaknya empat juta dari mereka telah menjadi pengungsi, terutama di Turki, Lebanon, Yordania, Irak dan Mesir.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/12/16/10-orang-meninggal-karena-kelaparan-di-suriah.html#sthash.2bqsYLnc.dpuf

Selasa, 09 Desember 2014

Akibat Zina, 172 Siswi Mojokerto Hamil













MOJOKERTO – Kabupaten Mojokerto krisis moral terkait temuan data Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Mojokerto menyebutkan, 172 siswi di Kabupaten Mojokerto terdeteksi pernah hamil di luar nikah terhitung sejak bulan Januari hingga November 2014. Musibah, Innalillahi wainna ilaihi roji’un.
Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Mojokerto, Yudha Hadi mengatakan, ada empat alasan penyebab siswi hamil akibat berzina itu. Di antaranya menonton video porno sejak SD, pandangan jika tidak melakukan seks dianggap kuper, banyak internet yang disalahgunakan, dan keluarga broken home
“Saat ini, kecenderungan perempuan yang mengajak bukan lagi laki-laki. Keluarga broken home, kedua orang tua bekerja di luar, lingkungan kurang pas membuat krisis moral Kabupaten Mojokerto. Jumlah siswi hamil meningkat tahun 2014, terbanyak siswi SMK/SMA disusul siswi SMP dan siswi SD,” katanya, tulis Beritajatim.com Senin (1/12/2014).
Jumlah siswi hamil tahun 2013 sampai November 2014 naik 41 persen. Menurutnya, pendampingan yang dilakukan P2TP2A Kabupaten Mojokerto melindungi baik korban dan pelaku anak-anak agar tidak melakukan lagi. Pendampingan dilakukan sampai proses hukum hingga menyiapkan pengacara dan psikiater.
“Siswi hamil kebanyakan berasal dari sekolah yang tidak membentuk pusat konseling remaja. BPPKB, PKK, Dinas Pendidikan dan Kementrian Agama akan membentuk pusat konseling remaja di sekolah yang belum memiliki, ini penting mulai dari SMP sampai perguruan tinggi,” tegasnya.
Islam melarang dekati zina apalagi berzina
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا [الإسراء/32]
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Israa’/ 17: 32).
Imam As-Sa’di dalam tafsirnya, At_Taisir, menjelaskan: Dan larangan mendekati zina itu lebih mengena (ablagh) daripada larangan hanya perbuatan zina itu sendiri, karena yang demikian itu mencakup larangan terhadap seluruh awalan-awalannya, dan faktor-faktor yang menyebabkan zina. Karena “siapa yang menggembala sekitar daerah larangan maka dia hampir jatuh ke dalamnya”, terutama masalah ini, yang dalam banyak jiwa adalah alasan paling kuat untuk itu.
Allah menyifati buruknya zina dengan: { كَانَ فَاحِشَةً } adalah suatu perbuatan yang keji , artinya, dosa yang dinilai buruk dalam syari’at, akal, dan fitrah (naluri); karena kandungannya adalah pelanggaran atas keharaman di dalam hak Allah, hak perempuan, hak keluarga perempuan atau suaminya; dan merusak tikar (kehormatan suami isteri), mencampur aduk keturunan, dan keburukan-keburukan lainnya. (Tafsir As-Sa’di, juz 1 halaman 457).
وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ [الأنعام/151]
“…dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, … (QS Al-An’am/6: 151)
Wabah dan penyakit akibat zina merajalela
Bila pelanggaran berupa zina telah merajalela di suatu masyarakat maka Allah akan menyebarkan wabah tha’un (wabah penyakit pes) dan penyakit-penyakit yang belum pernah diderita oleh orang-orang terdahulu sebelumnya.
Inilah hadits-haditsnya:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ
أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ (رواه ابن ماجه واللفظ له والبزار والبيهقي – صحيح الترغيب والترهيب – الألباني (ج 2 / ص 157)
1761 – ( صحيح لغيره )
Dari Abdullah bin Umar dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajah ke kami dan bersabda: “Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya; Tidaklah kekejian (mesum) menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un (wabah pes) dan penyakit-penyakit yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka. Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim. Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan saling memerangi di antara mereka.” (HR Ibnu Majah nomor 4009, lafal baginya, dan riwayat Al-Bazar dan Al-Baihaqi, shahih lighoirihi menurut Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib hadits nomor 1761).
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Apabila zina dan riba telah nampak di suatu kampong maka sungguh mereka telah menghalalkan diri mereka ketetapan (adzab) Allah ‘Azza wa Jalla. (HR At-Thabrani, Al-Hakim dia berkata shahih sanadnya, dan Al-baihaqi, menuru Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib 1859 adalah hasan lighairihi).
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« مَا نَقَضَ قَوْمٌ الْعَهْدَ قَطُّ إِلاَّ كَانَ الْقَتْلُ بَيْنَهُمْ وَلاَ ظَهَرَتِ الْفَاحِشَةُ فِى قَوْمٍ قَطُّ إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْمَوْتَ وَلاَ مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِلاَّ حَبَسَ اللَّهُ عَنْهُمُ الْقَطْرَ ».
Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Tidaklah suatu kaum merusak janji sama sekali kecuali akan ada pembunuhan di antara mereka. Dan tidaklah perzinaan nampak di suatu kaum kecuali Allah akan menguasakan kematian atas mereka, dan tidaklah suatu kaum menahan zakat kecuali Allah akan menahan hujan dari mereka. (HR Al-Hakim, ia berkata shahih atas syarat Muslim, dan riwayat Al-Baihaqi, menurut Al-Albani shahih lighairihi dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib nomor 2418).
عَنْ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا لَمْ يَفْشُ فِيهِمْ وَلَدُ الزِّنَا فَإِذَا فَشَا فِيهِمْ وَلَدُ الزِّنَا فَيُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعِقَابٍ
Dari Maimunah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Umatku akan senantiasa dalam kebaikan selama di antara mereka tidak bermunculan anak hasil zina, jika anak hasil zina telah bermunculan di antara mereka, maka dikawatirkan Allah akan menghukum mereka semua.” (HR Ahmad 25600 sanadnya hasan, menurut Al-Albani hasan lighairi dalam shahih At-Targhib wat-Tarhib no 2400).

Lagi, Soal BBM dan Kabinet KW-3












Oleh Edy Mulyadi*
 – Berapa harga pokok produksi (HPP) bahan bakar minyak (BBM) kita? Inilah pertanyaan keramat yang supersulit jawabannya. Jangankan mang Diman tukang bakso yang biasa keliling di komplek perumahan saya tinggal, kalau pertanyaan ini diajukan ke pemerintah pun, pasti tidak akan keluar angkanya. Tidak percaya? Silakan bertanya kepada Presiden Joko Widodo atau Menteri ESDM Sudirman Said. Saya akan jamin, jawaban mereka akan mbuletmuter-muter yang ujungnya ga jelas juga.
Bahkan jika pertanyaan ini pun Anda ajukan ke Pertamina yang tiap hari memproduksi minyak itu, tetap saja tidak akan keluar angkanya. Tidak percaya? Coba simak ucapan salah satu petinggi Pertamina ini;
“Pertamina tentu punya hitung-hitungan sendiri. Tapi itu tentu untuk lingkungan internal kami, untuk melakukan efisiensi di kami. Berapa produk kami itu kami punya,” ujar Vice President Corporate Commnunication Pertamina Ali Mundakir kepada wartawan, di kantor Pertamina.
Yang pasti, Ali menghitung dengan harga minyak dunia US$80/barel, maka harga keekonomian premium yang dijual di Indonesia seharusnya Rp8.600/liter (lihat CNN Indonesia, 17/11). Artinya, dengan dinaikkannya harga premium menjadi Rp 8.500 itu sudah mendekati harga keekonomian. Dengan kata lain, bisa disebut Pemerintah sudah hampir menghapus subsidi BBM.
Dengan fakta seperti ini, jadi sangat mengherankan tiba-tiba saja Menteri Keuangan Bambang Brojonegoro menyatakan kenaikan harga BBM sebesar Rp2.000/liter untuk premiun dan solar merupakan angka yang terbilang kecil. Sebab, dengan harga menjadi Rp8.500/liter, pemerintah masih menanggung subsidi sebesar Rp1.500/liter.
Saya mau tanya, pak Menteri, berapa sebenarnya HPP BBM kita? Lalu, komponen apa saja yang harus ditambahkan ke HPP tadi agar mencapai harga keekonomian? Berapa besaran masing-masing komponen tambahan itu? Bagaimana caranya menghitung angka-angka itu? Lalu, kenapa kami, rakyat Indonesia, harus membayar Rp.8.500/liter? Itu pun masih anda tambahi embel-embel pemerintah masih menyubsidi Rp.1.500.
Kedegilan pemerintah dan Pertamina untuk menutup rapat-rapat akses informasi HPP yang sebenarnya dari BBM kita, sungguh-sungguh menyebalkan. Akibatnya, banyak orang dan pihak sibuk menghitung-hitung sendiri angkanya. Setelah ditambah komponen ini-itu, maka lahirlah harga keekenomian versi masing-masing.
Mantan Menko Perekonomian era Megawati Soekarnoputri, Kwik Kian Gie, misalnya. Dia punya hitung-hitungan yang menarik. Jika harga minyak mentah US$70/barrel (159 liter), maka harga per liternya adalah US$0,44. Dengan kurs Rp12.000/US$, maka harga per liter jadi Rp5.280. Ditambah biaya biaya Pengilangan dan Transportasi yang US$10/barrel, maka harganya menjadi Rp 5.280+Rp755 = Rp.6.035/liter.
Jadi, kalo pemerintah menjual premium seharga Rp.8.500/liter, itu sudah untung Rp.2.465/liter. Jelas ini bukan jumlah yang kecil. Bayangkan, dengan kuota BBM yang 48 juta kilo liter untuk tahun 2015, maka pemerintah mengantongi keuntungan dari penjualan BBM jenis premium saja sebesar Rp.118,23 triliun.
Buat info saja, minyak pada perdagangan Jumat (5/12) di New York Mercantile Exchange (NYMEX), berakhir pada level US$65,63/. Ini adalah angka terendah dalam lima tahun terakhir.
Padahal, kalkulasi Kwik itu berdasarkan harga US$70/barel. Kalau angkanya turun lagi menjadi US$66/barel saja, maka keuntungan yang dikantongi pemerintah menjadi lebih besar lagi. Iya, kan?
Sesat dan menyesatkan
Tapi, begitulah pemerintah yang kini berkuasa. Sulit dipahami, apa motivasi sesungguhnya dari sikap penguasa yang tidak mau transparan seputar urusan BBM ini. Yang terjadi, selama ini justru rakyat dipompa dengan berbagai informasi sesat dan menyesatkan. BBM harus dinaikkan. Kalau tidak, APBN akan jebol. Subsidi BBM tidak tepat sasaran. Lebih baik subsidi dialihkan ke sektor-sektor produktif dan bermanfaat, seperti pembangunan infrastruktur.
Padahal, semua jejalan informasi itu adalah bohong belaka. Itu adalah nyanyian lama yang terus didengungkan tiap kali pemerintah hendak menaikkan harga BBM. Faktanya, kendati harga BBM sudah berkali-kali naik, tidak ada proyek infrastruktur yang dibangun. Tidak ada waduk baru, jalan tol, jembatan, bandara, pelabuhan, rel kereta api dan lainnya yang dibangun dengan dana yang konon disebut-sebut sebagai pengalihan subsidi BBM. Semua proyek insfrastruktur tadi dibiayai oleh swasta atau dengan utang, utang, dan utang.
Pernyataan Menkeu adalah salah satu contoh saja dari begitu banyak pernyataan ngawur para menteri Jokowi-JK. Menteri ESM Sudirman Said, misalnya, dengan gegabah mengatakan harga BBM yang murah membuat rakyat jadi pemalas. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastusi yang menyatakan, bahwa nelayan tidak keberatan bila harga BBM dinaikkan jelas ngawur. Dia juga menyebut selama ini karena harga BBM murah, nelayan beralih menjadi pelaku kejahatan dengan menjual BBM bersubsidi kepada kapal-kapal besar.
Dari berbagai celetukan ngawur itu, tampak kian jelas bahwa mereka tidak memiliki kapasitas yang memadai dan tidak paham persoalan. Seorang purnawirawan jenderal bintang empat bahkan menyebut, kabinet kali ini diisi orang-orang dengan kelas KW-3. Anda tentu paham, kan, apa yang dimaksud dengan KW-3?
Saya khawatir, cuma ada dua penjelasan dari apa yang dikatakan Bambang. Pertama, dia tidak bisa menghitung dengan baik sehingga bicaranya ngawur. Kedua, menteri ini hanya ingin menyenangkan Jusuf Kalla, orang yang disebut-sebut sebagai memiliki peran amat penting bagi Bambang! Sungguh mengerikan membayangkan masa depan Indonesia berada di tangan orang-orang yang tidak mengerti persoalan tapi hanya bekerja untuk menyenangkan para majikannya belaka.
Jadi, balik ke soal harga BBM tadi; saran saya sebaiknya para birokrat itu tidak asal bunyi. Apa pun penjelasan dan berapa pun angka yang kalian sodorkan, rakyat sudah skeptis. Toh pada konteks ini, sepertinya kebenaran adalah monopoli kalian belaka. Kami menganggap semua itu penuh dengan kebohongan yang sesat dan menyesatkan.
Saran kedua, sebaiknya hentikanlah terus-menerus membohongi publik. Saran ketiga, berhenti pulalah menjarah kekayaan negeri ini untuk kepentingan sendiri dan para majikan kalian. Toh kalian sudah terlalu kaya-raya dari hasil penjarahan itu. Lagi pula, jika kalian orang beragama, ingatlah bahwa semua itu dosa besar. Kelak kalian akan dimintai pertanggungjawaban di mahkamah akhirat yang hakimnya sama sekali tidak mempan sogok.
*Direktur Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Ribuan Warga Iran kecanduan Sabu














TEHERAN – Penggunaan obat adiktif metamfetamin atau biasa disebut shishe di Iran semakin meningkat pesat dan telah menjadi gaya hidup negara itu, sebagaimana dilansir oleh Delhi Daily News, Senin (8/12/2014).
Menurut statistik resmi, penggunaan metamfetamin telah melonjak begitu dahsyat dalam dekade terakhir, dan sekitar 345.000 orang Iran sekarang telah menjadi pecandu.
Penggunaan metamfetamin melonjak sebesar 128 persen antara tahun 2008 dan 2012, menurut angka yang dikumpulkan oleh Kantor PBB untuk Narkoba dan Krimimal (UNODC). Pada 2013, pemerintah Iran telah menyita seberat 3,6 ton shishe.
Seorang pejabat senior dari Kantor Pengendalian Obat Iran mengatakan tahun lalu bahwa obat tersebut dapat ditemukan di Teheran pada “kurang dari lima menit.” Sumber pemerintah mengatakan bahwa pecandu shishe di Iran sebagian besar berada di perkotaan, kelas menengah dan kaum muda. Penelitian ini juga menemukan banyak sebagian besar perempuan Iran tidak kecanduan obat adiktif itu.
“Kami benar-benar memiliki waktu yang sulit untuk meyakinkan orang bahwa ini adalah kecanduan,” kata Azaraksh Mokri, seorang psikiater yang mengajar di Tehran University of Medical Sciences dan telah telah menangani banyak kasus terkait kecanduan shishe.

Tahun 2014 Indonesia masih Terjajah















CIAMIS, – Jelang akhir tahun 2014, tepatnya pada hari Ahad, 7 Desember 2014, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD II Kabupaten Ciamis mengadakan acara Halqah Islam dan Peradaban edisi Refleksi Akhir Tahun 2014 dengan tema Selamatkan Indonesia dari Ancaman Neo-Liberalisme dan Neo-Imperialisme. Acara ini dimulai pukul 08.30 hingga 11.30 WIB dengan dihadiri oleh ratusan masyarakat Ciamis di Masjid Islamic Center Ciamis.
Maktab I’lamy HTI DPD II Kab. Ciamis, melaporkan hadir sebagai narasumber Ustadz Yusron Husaeni dari Ponpes Darul Ulum Ciamis yang memaparkan tentang tafsir hadits ruwaibidhah.
Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah)
Pada kesempatan berikutnya, Ustadz Rd. Dian Jatnika Firmansyah, S.TP, Ketua HTI DPD II Kabupaten Ciamis menjelaskan bahwa meskipun berganti pemimpin, Indonesia di bawah pemimpin baru dipastikan tetap akan tunduk pada sistem Kapitalisme-Liberal. Padahal sistem inilah yang telah membawa penderitaan rakyat. Atas nama privatisasi dan pasar bebas, kekayaan alam Indonesia dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing ataupun swasta lokal. Kebijakan liberal seperti swastaninasi dan pengurangan subsidi telah menambah derita rakyat, seperti saat BBM dan tarif listrik dinaikkan.
Katanya, saatnya bangsa ini melek! Indonesia masih terjajah, yakni dalam ancaman penjajahan gaya baru. Persoalan bangsa ini tak melulu berasal dari pemimpinnya yang bermasalah, tetapi juga bersumber dari sistemnya yang bermasalah. Bukan hanya pemimpinnya yang harus berganti, sistemnya juga harus diganti dari sistem kapitalisme-liberal kepada sistem Islam.
Semua itu hanya mungkin terwujud dengan keterlibatan seluruh komponen bangsa ini untuk bersama-sama berjuang menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam institusi Khilafah sebagai wujud ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya dengan penerapan syariah secara kaffah dalam isntitusi Khilafah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan keberkahannya dari langit dan bumi kepada negeri ini.
Acara ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh Ustadz Tatang, Ketua Lajnah Khusus Ulama HTI DPD II Kabupaten Ciamis.